Kata Mutiara Buya hamka Bag 1

Wah......
Dah Sudah agak lama nie Q gak posting ........
Ditungguin yach.......^_ " heheheheh makasa banget kayaknya....

Nah kalie nie Q posting agak berbeda nie dari postingan yang kemaren - kemaren ...
Tuk cerita yang kemaren tunggu yach...kelanjutanya...
Tuk kalie nie Q Posting Kata kata mutiara pahlawan kita ...
Capa ya.........????

Disamping dia seorang pahlawan .....eh ternyata Dia adalah sastrawan yang terpandang dijamannya dan yang pasti dikenang sampe sekarang .....
karena tulisanya yang begitu mempesona
siapa ya kira - kira ???


Dia adalah.......
Bapak Buya Hamka......



Tulisan yang baik
Bukan merupakan tulisan yang berkelok kelok indah tulisanya
Bukan juga yang seratus bila kita menilainya
Tapi......
Tulisan yang baik adalah
Tulisan dimana mengandung makna yang dalam
Makna yang tersirat dalam di dalam tulisanya
Tulisan yang serat makna
Yang mampu menghidupkan jiwa
(By Anwar)

Ini adalah Kata kata Mutiara Buya Hamka

Tahan menderita kepahitan hidup sehingga penderitaan
menjadi kekayaan adalah bahagia

Kenal akan keindahan dan sanggup menyatakan keindahan itu
kepada orang lain adalah bahagia

Sewaktu kecil anak-anak lelaki menjadi perhiasan mata
karena lucunya, karena dia tumpuan harapan, maka setelah dia
besar, dia menjadi kebanggaan karena kejayaan hidupnya


Ikhlas dan sejati akan bertemu di dalam senyuman anak
kecil,senyum yang sebenarnya senyum,senyum yang tidak
disertai apa-apa

Kegunaan harta tidak dimungkiri -Tetapi
ingatlah yang lebih tinggi ialah cita-cita
yang mulia

Adil ialah menimbang yang sama berat,
menyalahkan yang salah dan
membenarkan yang benar,
mengembalikan hak yang empunya dan
jangan berlaku zalim di atasnya

Berani menegakkan keadilan, walaupun
mengenai diri sendiri, adalah puncak
segala keberanian

Yang benar tetap benar, yang salah tetap
salah. Kaya dan miskin di hadapan
keadilan adalah sama

Berkisar dan berpaling dari keadilan
kerana dorongan hawa nafsu hanyalah
mempersulitkan diri sendiri

Kata - kata yang lemah dan beradab
dapat melembutkan hati dan manusia
yang keras

Hawa nafsu membawa kesesatan dan tidak berpedoman dan
akal menjadi pedoman menuju keutamaan. Hawa nafsu
menyuruh mengelamun, berangan-angan, tetapi akal
menyuruh menimbang

Tidak semua orang yang menolak
kebenaran itu tidak tahu bahwa yang
ditolakkanya itu benar

Tiga rukun yang benar dan perlu dalam
mencapai utama yaitu dengan tabiat,
dengan pengalaman dan dengan pelajaran.
Adapun musuh yang sentiasa menghalangi
manusia mencapai keutamaan yalah hawa
- nafsu yang menyebabkan marah dan
dengki












Cinta...??
Apa itu cinta...?? Q sendiri tak begitu paham dengan sebuah kata pendek ini.....
Katanya cinta mampu membuat suatu kebahagiaan ....
Katanya cinta juga....malah menjadi malapetaka...yang menyakitkan......
Wuh ...gk tau akh..........!!!!
Yang Q tau cinta adalah suatu yang kasat mata....yang dapat memberikan kebahagiaan........
Pi....bener gk yach.......????
ya udah lah ...gk da habisnya klo ngomongin cinta..!!!

????? Anwar ??????


Q ta mulai aza nih crita........

Alkisah di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda
abstrak: ada CINTA, KEKAYAAN,KECANTIKAN, KESEDIHAN, KEGEMBIRAAN dan
sebagainya. Awalnya mereka hidup berdampingan dengan baik dan saling
melengkapi. Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu
dan air laut tiba-tiba naik semakin tinggi dan akan menenggelamkan
pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan
diri.


CINTA sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tak
mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari
pertolongan. Sementara itu air makin naik membasahi kaki CINTA. Tak
lama CINTA melihat KEKAYAAN sedang mengayuh perahu. "KEKAYAAN!
KEKAYAAN! Tolong aku!" teriak CINTA. Lalu apa jawab KEKAYAAN


"Aduh! Maaf,CINTA!" kata KEKAYAAN. "Perahuku telah penuh dengan harta
bendaku. Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam.
Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini." Lalu KEKAYAAN
cepat-cepat mengayuh perahunya pergi meninggalkan CINTA tenggelam.


CINTA sedih sekali, namun kemudian dilihatnya KEGEMBIRAAN lewat dengan
perahunya. "KEGEMBIRAAN! Tolong aku!", teriak CINTA. Namun apa yang
terjadi, KEGEMBIRAAN terlalu gembira karena ia menemukan perahu
sehingga ia tuli tak mendengar teriakan CINTA. Air makin tinggi
membasahi CINTA sampai ke pinggang dan CINTA semakin panik. Tak lama
lewatlah KECANTIKAN.


"KECANTIKAN! Bawalah aku bersamamu!", teriak CINTA. Lalu apa jawab
KECANTIKAN, "Wah, CINTA, kamu basah dan kotor.Aku tak bisa membawamu
ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini." sahut KECANTIKAN.
CINTA sedih sekali mendengarnya. CINTA mulai menangis terisak-isak. Apa
kesalahanku, mengapa semua orang melupakan aku.


Saat itu lewatlah KESEDIHAN. Lalu CINTA memelas, "Oh, KESEDIHAN,
bawalah aku bersamamu", kata CINTA. Lalu apa kata KESEDIHAN, "Maaf,
CINTA. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja...", kata
KESEDIHAN sambil terus mengayuh perahunya. CINTA putus asa. Ia
merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya. CINTA terus
berharap kalau dirinya dapat diselamatlkan. Lalu ia berdoa kepada
Tuhannya, oh tuhan tolonglah aku, apa jadinya dunia tanpa aku, tanpa
CINTA?


Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara, "CINTA! Mari cepat
naik ke perahuku!" CINTA menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang
tua reyot berjanggut putih panjang sedang mengayuh perahunya. Lalu
Cepat-cepat CINTA naik ke perahu itu, tepat sebelum air
menenggelamkannya.


Kemudian di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan CINTA dan segera
pergi lagi. Pada saat itu barulah CINTA sadar, bahwa ia sama sekali
tidak mengetahui siapa orang tua yang baik hati menyelamatkannya itu.
CINTA segera menanyakannya kepada seorang penduduk tua di pulau itu,
siapa sebenarnya orang tua itu. "Oh, orang tua tadi? Dia adalah
"WAKTU", kata orang itu.


Lalu CINTA bertanya "Tapi, mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak
mengenalnya. Bahkan teman-teman yang mengenalku pun enggan menolongku",
tanya CINTA heran. "Sebab", kata orang itu, "hanya WAKTU lah yang tahu
berapa nilai sesungguhnya dari CINTA itu...

Dibalik Sebuah Kebohongan Cinta

Mengapa saya kasih judul kayak ginie....
Ya....karena cerita ini adalah cerita tentang sebuah kebohongan cinta.....
Yang merupakan sebuah perbuatan yang mulia ......
Kebohongan yang mengantarkan seseorang menemui kebahagiaan mereka sesungguhnya
By Anwar




Sewaktu Boy dan Girl baru pacaran,

Boy melipat 1000 burung kertas buat Girl,

menggantungkannya di dalam kamar Girl.

Boy mengatakan 1000 burung kertas itu menandakan 1000 ketulusan hatinya.

Waktu itu...

Girl dan Boy setiap detik selalu merasakan betapa indahnya cinta mereka berdua...

Tetapi pada suatu saat, Girl mulai menjauhi Boy.


Girl memutuskan untuk menikah dan pergi ke Perancis...

Ke Paris...Tempat yang dia impikan di dalam mimpinya berkali2 itu...

Sewaktu Girl mau memutuskan Boy,
Girl bilang sama Boy,

kita harus melihat dunia ini dengan pandangan yang dewasa...

Menikah bagi cewek adalah kehidupan kedua kalinya...

Aku harus bisa memegang kesempatan ini dengan baik.

Kamu terlalu miskin, sungguh aku tidak berani membayangkan

bagaimana kehidupan kita setelah menikah...!!


Setelah Girl pergi ke Perancis,

Boy bekerja keras...

dia pernah menjual koran...

menjadi karyawan sementara...

bisnis kecil...

setiap pekerjaan dikerjakan dengan sangat baik dan tekun.

Sudah lewat beberapa tahun...

Karena pertolongan teman dan kerja kerasnya,

akhirnya dia mempunyai sebuah perusahaan.

Dia sudah kaya, tetapi hatinya masih tertuju pada Girl,

dia masih tidak dapat melupakannya.


Pada suatu hari... waktu hujan,

Boy dari mobilnya melihat sepasang orang tua berjalan sangat pelan di depan.

Dia mengenali mereka, mereka adalah orang-tua Girl....

Dia ingin mereka lihat kalau sekarang Boy tidak hanya mempunyai mobil pribadi,

tetapi juga mempunyai villa dan perusahaan sendiri,

ia ingin mereka tahu kalau dia bukan seorang yang miskin lagi, dia sekarang adalah seorang Boss.


Boy mengendarai mobilnya sangat pelan sambil mengikuti sepasang orang-tua tersebut.

Hujan terus turun tanpa henti, biarpun kedua orang-tua itu memakai payung,

tetapi badan mereka tetap basah karena hujan.


Sewaktu mereka sampai tempat tujuan,

Boy tercegang oleh apa yang ada di depan matanya, itu adalah tempat pemakaman.


Dia melihat di atas papan nisan Girl tersenyum sangat manis terhadapnya.

Di samping makamnya yang kecil, tergantung burung2 kertas yang dibuatkan Boy.

Dalam hujan, burung2 kertas itu terlihat begitu hidup,

Orang-tua Girl memberitahu Boy,

Girl tidak pergi ke Paris ,

Girl terserang kanker,

Girl pergi ke surga.

Girl ingin Boy menjadi orang,

mempunyai keluarga yang harmonis,

maka dengan terpaksa berbuat demikian terhadap Boy dulu.

Girl bilang dia sangat mengerti Boy,

dia percaya kalau Boy pasti akan berhasil.

Girl mengatakan...

kalau pada suatu hari Boy akan datang ke makamnya

dan berharap dia membawakan beberapa burung kertas buatnya lagi.

Boy langsung berlutut,

berlutut di depan makam Girl,

menangis dengan begitu sedihnya.

Hujan pada hari itu terasa tidak akan berhenti,

membasahi sekujur tubuh Boy.

Boy teringat senyum manis Girl yang begitu manis dan polos,


Mengingat semua itu,

hatinya mulai meneteskan darah...

Sewaktu orang-tua itu keluar dari pemakaman,

mereka melihat kalau Boy sudah membukakan pintu mobil untuk mereka.

Lagu sedih terdengar dari dalam mobil tersebut.


"Hatiku tidak pernah menyesal,

semuanya hanya untukmu 1000 burung kertas,

1000 ketulusan hatiku,

beterbangan di dalam angin

menginginkan bintang yang lebat besebaran di langit...

melewati sungai perak,

apakah aku bisa bertemu denganmu?

Tidak takut berapapun jauhnya,

hanya ingin sekarang langsung berlari ke sampingmu.

Masa lalu seperti asap...

hilang dan tak kan kembali...

menambah kerinduan di hatiku...

Bagaimanapun dicari,

jodoh kehidupan ini pasti tidak akan berubah.."


Masihkah Ada Laki - Laki Seperti Ini ??

Cinta
Keserhanaan kataya seolah menyembunyikan makna yang indah didalamnya
Karena dengan cinta orang bisa melakukan perbuatan yang mulia yang tak seorangpun mampu menduganya
Cinta mampu membuat mahluk menjadi sangat perkasa dalam mengarungi hidup ,
Kuat menghadapi ujian dan dalam menerma semua cobaan
Ya itulah cinta
Peliharalah cinta seolah memelihara nyawamu sendiri
Karena dengan cinta akan membawa kita ke dunia yang penuh kebahagiaan
(by Anwar)



Kalau kita laki....bisakah kita seperti ini ??!!!!
Itulah sebuah pertanyaan yang terus mengaung seolah tersirat tak sadar di dalam cerita ini
Cerita ini adalah cerita tmenQ yang ia tulis diforumnya
Sayang kalau cerita ini....hanya satu dua orang yang membacanya.....oleh karena itu saya posting disini untuk sekedar penambah inspirasi kepada kita semua






Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja

bahkan sudah mendekati malam,pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi


dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. mereka menikah


sudah lebih 32 tahun



Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa,setelah


istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa


digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh


tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah


tidak bisa digerakkan lagi.



Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan


mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia


letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.



Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya


tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari


rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan


siang. sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan


selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan


apa2 saja yg dia alami seharian.



Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, pak


suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap


berangkat tidur.



Rutinitas ini dilakukan pak suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia


merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka,


sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah.



Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka


sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal


dengan keluarga masing2 dan pak suyatno memutuskan ibu mereka Dia yg


merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.



Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata " Pak kami ingin


sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada


sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak.bahkan bapak tidak ijinkan kami


menjaga ibu" .



dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya "sudah yg keempat


kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi ,kami rasa ibupun akan


mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban


seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak,kami janji kami akan


merawat ibu bergantian".



Pak suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka." Anak2ku


Jikalau hidup didunia ini hanya untuk nafsu Mungkin bapak akan menikah,


tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari


cukup, dia telah Melahirkan kalian".. sejenak kerongkongannya tersekat,


kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak


satupun dapat menghargai dengan apapun. coba kalian tanya ibumu apakah dia


menginginkan keadaanya seperti Ini. kalian menginginkan bapak bahagia,


apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya


sekarang". kalian menginginkan bapak yg masih diberi Allah kesehatan


dirawat oleh orang lain bagaimana dengan ibumu yg masih sakit. Sejenak


meledaklah tangis anak2 pak suyatno merekapun melihat butiran2 kecil jatuh


dipelupuk mata ibu suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat


dicintainya itu..



Sampailah akhirnya pak suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta


untuk menjadi nara sumber diacara islami Selepas shubuh dan merekapun


mengajukan pertanyaan kepada pak suyatno kenapa mampu bertahan selama 25


tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2..disaat itulah meledak


tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun


tidak sanggup menahan haru disitulah pak suyatno bercerita".



Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta tapi dia tidak mencintai


karena Allah semuanya akan luntur. Saya memilih istri saya menjadi


pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat


saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia


memberi saya 4 orang anak yg lucu2..



Sekarang dia sakit berkorban untuk saya karena Allah..dan itu merupakan


ujian bagi saya, sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia


sakit,,,setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya dapat bercerita


kepada Allah



Diatas sajadah..dan saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk


menyimpan dan mendengar rahasia saya

Jangan Menunggu Esok Untuk Katakan Cinta

Terkadang kita tak sadar betapa betapa banyak yang penting dalam kehidupan kita
Waktu...ya..waktu adalah salah satu dari ribuan hal penting yang kita punya
Pi...tak jarang kita luput karenanya..


Sebuah kisah yang pilu tentang cinta dan waktu......
Tentang pengungkapan cinta dan waktu yang ia punya untuk cinta itu.....
Jangan sia siakan waktu kita ...
Apa yang kita bisa buat sekarang maka jangan tunda
Lakukanlah....!!!
Ungkapkan cinta kepada yang dicintai lakukan lakukanlah....!!!sebelum terlambat...
(By Anwar)


Ini adalah cerita dari temen saya di forum...
Karen terharunya saya ingin mengabadikan tulisanya di blogku ini...
Selamat membaca ya......^.^





Segalanya berawal ketika saya masih berumur 6 th.


Ketika saya sedang bermain di halaman rumah saya di Surabaya, saya bertemu

seorang anak laki-laki. Dia seperti anak laki-laki lainnya yang menggoda saya dan kemudian saya mengejarnya dan memukulnya.


Setelah pertemuan pertama dimana saya memukulnya, kami selalu bertemu dan

saling memukul satu sama lain di batas pagar itu. Tapi itu tidaklah
lama. Kami selalu bertemu di pagar itu dan kami selalu bersama. Saya
menceritakan semua rahasia saya.


Dia sangat pendiam... dia hanya mendengarkan apa yang saya katakan.
Saya menganggap dia enak diajak bicara dan saya dapat berbicara
kepadanya tentang apa saja.

Di sekolah, kami memiliki teman-teman yang berbeda tapi ketika kami
pulang kerumah, kami selalu berbicara tentang apa yang terjadi di
sekolah.


Suatu hari,saya bercerita kepadanya tentang anak laki-laki yang saya
sukai tetapi telah menyakiti hati saya.... Dia menghibur saya dan
mengatakan segalanya akan beres. Dia memberikan kata-kata yang
mendukung dan membantu saya untuk melupakannya.


Saya sangat bahagia dan menganggapnya sebagai teman sejati. Tetapi saya
tahu bahwa sesungguhnya ada yang lainnya dari dirinya yang saya suka.
Saya memikirkannya malam itu dan memutuskan kalau itu adalah rasa
persahabatan.


Selama SMA dan semasa kelulusan, kami selalu bersama dan tentu saja
saya berpikir bahwa ini adalah persahabatan. Tetapi jauh di lubuk hati,
saya tahu bahwa ada sesuatu yang lain.

Pada malam kelulusan, meskipun kami memiliki pasangan sendiri-sendiri,
sesungguhnya saya menginginkan bahwa sayalah yang menjadi pasangannya.


Malam itu, setelah semua orang pulang, saya pergi ke rumahnya untuk

mengatakannya. Malam itu adalah kesempatan terbesar yang saya miliki
tapi saya hanya duduk di sana dan memandangi bintang bersamanya dan
bercakap-cakap tentang cita-cita kami. Saya melihat ke matanya dan
mendengarkan ia bercerita tentang impiannya. Bagaimana dia ingin
menikah dan sebagainya. Dia bercerita bagaimana dia ingin menjadi orang
kaya dan sukses. Yang dapat saya lakukan hanya menceritakan impian saya
dan duduk dekat dengan dia.


Saya pulang ke rumah dengan terluka karena saya tidak mengatakan
perasaan saya yang sebenarnya. Saya sangat ingin mengatakan bahwa saya
sangat mencintainya tapi saya takut. Saya membiarkan perasaan itu pergi
dan berkata kepada diri saya sendiri bahwa suatu hari saya akan
mengatakan kepadanya mengenai perasaan saya.


Selama di universitas, saya ingin mengatakan kepadanya tetapi dia
selalu bersama-sama dengan seseorang. Setelah lulus, dia mendapatkan
pekerjaan di Jakarta. Saya sangat gembira untuknya, tapi pada saat
yang sama saya sangat bersedih menyaksikan kepergiannya. Saya sedih
karena saya menyadari ia pergi untuk pekerjaan besarnya. Jadi... saya
menyimpan perasaan saya untuk diri saya sendiri dan melihatnya pergi
dengan pesawat.


Saya menangis ketika saya memeluknya karena saya merasa seperti ini
adalah saat terakhir. Saya pulang ke rumah malam itu dan menangis. Saya
merasa terluka karena saya tidak mengatakan apa yang ada di hati saya.


Saya memperoleh pekerjaan sebagai sekretaris dan akhirnya menjadi
seorang analis komputer. Saya sangat bangga dengan prestasi saya. Suatu
hari saya menerima undangan pernikahan. Undangan itu darinya. Saya
bahagia dan sedih pada saat yang bersamaan.


Sekarang saya tahu kalau saya tak akan pernah bersamanya dan kami hanya
bisa menjadi teman. Saya pergi ke pesta pernikahan itu bulan
berikutnya. Itu adalah sebuah peristiwa besar. Saya bertemu dengan
pengantin wanita dan tentu saja juga dengannya.


Sekali lagi saya merasa jatuh cinta. Tapi saya bertahan agar tidak
mengacaukan apa yang seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi
mereka. Saya mencoba bersenang-senang malam itu, tapi sangat
menyakitkan hati melihat dia begitu bahagia dan saya mencoba untuk
bahagia menutupi air mata kesedihan yang ada di hati saya.


Saya meninggalkan Jakarta merasa bahwa saya telah melakukan hal yang
tepat. Sebelum saya berangkat... tiba-tiba dia muncul dan mengucapkan
salam perpisahan dan mengatakan betapa ia sangat bahagia bertemu dengan
saya. Saya pulang ke rumah dan mencoba melupakan semua yang terjadi di Jakarta.


Kehidupan saya harus terus berjalan. Tahun-tahun berlalu... kami saling
menulis surat dan bercerita mengenai segala hal yang terjadi dan
bagaimana dia merindukan untuk berbicara dengan saya.

Pada suatu ketika, dia tak pernah lagi membalas surat saya. Saya sangat
kuatir mengapa dia tidak membalas surat saya meskipun saya telah
menulis 6 surat kepadanya..



Ketika semuanya seolah tiada harapan, tiba-tiba saya menerima sebuah
catatan kecil yang mengatakan: "Temui saya di pagar dimana kita biasa
bercakap-cakap"

Saya pergi ke sana dan melihatnya di sana. Saya sangat bahagia
melihatnya tetapi dia sedang patah hati dan bersedih. Kami berpelukan
sampai kami kesulitan untuk bernafas.


Kemudian ia menceritakan kepada saya tentang perceraian dan mengapa dia
tidak pernah menulis surat kepada saya. Dia menangis sampai dia tak
dapat menangis lagi... Akhirnya kami kembali ke rumah dan bercerita dan
tertawa tentang apa yang telah saya lakukan mengisi waktu. Akan tetapi,
saya tetap tidak dapat mengatakan kepadanya bagaimana perasaan saya
yang sesungguhnya kepadanya.


Hari-hari berikutnya... dia gembira dan melupakan semua masalah dan
perceraiannya. Saya jatuh cinta lagi kepadanya. Ketika tiba saatnya dia
kembali ke Jakarta, saya menemuinya dan menangis. Saya benci
melihatnya harus pergi. Dia berjanji untuk menemui saya setiap kali dia
mendapat libur.


Saya tak dapat menunggu saat dia datang sehingga saya dapat bersamanya. Kami selalu bergembira ketika sedang bersama.

Suatu hari dia tidak muncul sebagaimana yang telah dijanjikan. Saya
berpikir bahwa mungkin dia sibuk. Hari berganti bulan dan saya
melupakannya.


Suatu hari saya mendapat sebuah telepon dari Jakarta. Pengacara
mengatakan bahwa ia telah meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil dalam
perjalanan ke airport. Hati saya patah. Saya sangat terkejut akan
kejadian ini . Sekarang saya tahu... mengapa ia tidak muncul hari itu.
Saya menangis semalaman.


Air mata kesedihan dan kepedihan. Bertanya-tanya mengapa hal ini bisa

terjadi terhadap seseorang yang begitu baik seperti dia?


Saya mengumpulkan barang-barang saya dan pergi ke Jakarta untuk
pembacaan surat wasiatnya. Tentu saja semuanya diberikan kepada
keluarganya dan mantan istrinya. Akhirnya saya dapat bertemu dengan
mantan istrinya lagi setelah terakhir kali saya bertemu pada pesta
pernikahan. Dia menceritakan bagaimana mantan suaminya. Tapi suaminya
selalu tampak tidak bahagia.


Apapun yang dia kerjakan... tidak bisa membuat suaminya bahagia seperti
saat pesta pernikahan mereka. Ketika surat wasiat dibacakan,
satu-satunya yang diberikan kepada saya adalah sebuah diary.


Itu adalah diary kehidupannya. Saya menangis karena itu diberikan
kepada saya. Saya tak dapat berpikir... Mengapa ini diberikan kepada
saya?


Saya mengambilnya dan terbang kembali ke Surabaya.

Ketika saya di pesawat, saya teringat saat-saat indah yang kami miliki bersama.


Saya mulai membaca diary itu. Diary dimulai ketika hari pertama kami

berjumpa. Saya terus membaca sampai saya mulai menangis. Diary itu
bercerita bahwa dia jatuh cinta kepada saya di hari ketika saya patah
hati. Tapi dia takut untuk mengatakannya kepada saya.


Itulah sebabnya mengapa dia begitu diam dan mendengarkan segala
perkataan saya. Diary itu menceritakan bagaimana dia ingin
mengatakannya kepada saya berkali-kali, tetapi takut. Diary itu
bercerita ketika dia ke Jakarta dan jatuh cinta dengan yang lain.
Bagaimana dia begitu bahagia ketika bertemu dan berdansa dengan saya di
hari pernikahannya.


Dia berkata bahwa ia membayangkan bahwa itu adalah pernikahan kami.


Bagaimana dia selalu tidak bahagia sampai akhirnya harus menceraikan

istrinya. Saat-saat terindah dalam kehidupannya adalah ketika membaca huruf demi huruf yang saya tulis kepadanya.


Akhirnya diary itu berakhir dengan tulisan, "Hari ini saya akan mengatakan kepadanya kalau saya mencintainya"


Itu adalah hari dimana dia terbunuh. Hari dimana pada akhirnya saya akan mengetahui apa yang sesungguhnya ada dalam hatinya.


Jika engkau mencintai seseorang, "JANGAN TUNGGU ESOK HARI UNTUK
MENGATAKAN KEPADANYA" karena esok hari itu... mungkin takkan pernah ada

Cinta...??
Apa itu cinta...?? Q sendiri tak begitu paham dengan sebuah kata pendek ini.....
Katanya cinta mampu membuat suatu kebahagiaan ....
Katanya cinta juga....malah menjadi malapetaka...yang menyakitkan......
Wuh ...gk tau akh..........!!!!
Yang Q tau cinta adalah suatu yang kasat mata....yang dapat memberikan kebahagiaan........
Pi....bener gk yach.......????
ya udah lah ...gk da habisnya klo ngomongin cinta..!!!

????? Anwar ??????


Q ta mulai aza nih crita........

Alkisah di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda
abstrak: ada CINTA, KEKAYAAN,KECANTIKAN, KESEDIHAN, KEGEMBIRAAN dan
sebagainya. Awalnya mereka hidup berdampingan dengan baik dan saling
melengkapi. Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu
dan air laut tiba-tiba naik semakin tinggi dan akan menenggelamkan
pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan
diri.


CINTA sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tak
mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari
pertolongan. Sementara itu air makin naik membasahi kaki CINTA. Tak
lama CINTA melihat KEKAYAAN sedang mengayuh perahu. "KEKAYAAN!
KEKAYAAN! Tolong aku!" teriak CINTA. Lalu apa jawab KEKAYAAN


"Aduh! Maaf,CINTA!" kata KEKAYAAN. "Perahuku telah penuh dengan harta
bendaku. Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam.
Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini." Lalu KEKAYAAN
cepat-cepat mengayuh perahunya pergi meninggalkan CINTA tenggelam.


CINTA sedih sekali, namun kemudian dilihatnya KEGEMBIRAAN lewat dengan
perahunya. "KEGEMBIRAAN! Tolong aku!", teriak CINTA. Namun apa yang
terjadi, KEGEMBIRAAN terlalu gembira karena ia menemukan perahu
sehingga ia tuli tak mendengar teriakan CINTA. Air makin tinggi
membasahi CINTA sampai ke pinggang dan CINTA semakin panik. Tak lama
lewatlah KECANTIKAN.


"KECANTIKAN! Bawalah aku bersamamu!", teriak CINTA. Lalu apa jawab
KECANTIKAN, "Wah, CINTA, kamu basah dan kotor.Aku tak bisa membawamu
ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini." sahut KECANTIKAN.
CINTA sedih sekali mendengarnya. CINTA mulai menangis terisak-isak. Apa
kesalahanku, mengapa semua orang melupakan aku.


Saat itu lewatlah KESEDIHAN. Lalu CINTA memelas, "Oh, KESEDIHAN,
bawalah aku bersamamu", kata CINTA. Lalu apa kata KESEDIHAN, "Maaf,
CINTA. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja...", kata
KESEDIHAN sambil terus mengayuh perahunya. CINTA putus asa. Ia
merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya. CINTA terus
berharap kalau dirinya dapat diselamatlkan. Lalu ia berdoa kepada
Tuhannya, oh tuhan tolonglah aku, apa jadinya dunia tanpa aku, tanpa
CINTA?


Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara, "CINTA! Mari cepat
naik ke perahuku!" CINTA menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang
tua reyot berjanggut putih panjang sedang mengayuh perahunya. Lalu
Cepat-cepat CINTA naik ke perahu itu, tepat sebelum air
menenggelamkannya.


Kemudian di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan CINTA dan segera
pergi lagi. Pada saat itu barulah CINTA sadar, bahwa ia sama sekali
tidak mengetahui siapa orang tua yang baik hati menyelamatkannya itu.
CINTA segera menanyakannya kepada seorang penduduk tua di pulau itu,
siapa sebenarnya orang tua itu. "Oh, orang tua tadi? Dia adalah
"WAKTU", kata orang itu.


Lalu CINTA bertanya "Tapi, mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak
mengenalnya. Bahkan teman-teman yang mengenalku pun enggan menolongku",
tanya CINTA heran. "Sebab", kata orang itu, "hanya WAKTU lah yang tahu
berapa nilai sesungguhnya dari CINTA itu...

Kuatkah Kita Menahan Cobaan Ini ??

Mengapa dunia tak seindah yang diangan - angankan orang yang benar merindukan kebahagiaan itu
Betapa bahagia orang yang hidupnya selalu di beri kemudahan dan kebahagiaan
Jangan pernah menyepelekan orang serasa rendah di mata kita
Karena sebenarnya orang orang itulah orang sangat kuat dalam mengarungi hidup dengan cobaan mereka
Yang kita sendiri sendiri belum temtu mampu memikulnya
By Anwar





Inikah nasib? Terlahir sebagai menantu bukan pilihan. Tapi aku dan Kania

harus tetap menikah. Itu sebabnya kami ada di Kantor Catatan Sipil. Wali

kami pun wali hakim. Tapi aku masih sangat bersyukur karena Lukman dan Naila mau hadir menjadi saksi. Itu 25 tahun yang lalu.


22 tahun yang lalu,

Pekerjaanku tidak begitu elite, tapi cukup untuk biaya makan keluargaku.

aku punya momongan. Seorang putri, kunamai ia Kamila. Aku berharap ia
bisa menjadi perempuan kaya akan budi baik hingga dia tampak sempurna.
Kulitnya masih merah, mungkin karena ia baru berumur seminggu. Sayang,
dia tak dijenguk kakek-neneknya . Orangtuaku dan orangtua Kania tak mau
menerima kami. Ya sudahlah. Aku tak berhak untuk memaksa dan aku tidak
membenci mereka. Aku hanya yakin, suatu saat nanti, mereka pasti akan
berubah.


19 tahun yang lalu,

Kamilaku gesit dan lincah. Dia sekarang sedang senang berlari-lari,

melompat-lompat atau meloncat kemudian berteriak "Horeee, Iya bisa
terbang". Begitulah dia memanggil namanya sendiri, Iya. Dan Kania tak
jarang berteriak, "Iya sayaaang," jika sudah terdengar suara "Prang".
Itu artinya, ada yang pecah, bisa vas bunga, gelas, piring, atau meja
kaca. Dan dia cuma bilang "Kenapa semua kaca di rumah ini selalu pecah,
Ma?"


18 tahun yang lalu,

Hari ini Kamila ulang tahun. Aku sengaja pulang lebih awal dari
pekerjaanku agar bisa membeli hadiah dulu. Kemarin lalu dia merengek
minta dibelikan bola. Makanya kubelikan ia sebuah bola. Paling tidak
aku bisa punya lawan main setiap sabtu sore. Dan seperti yang sudah
kuduga, dia bersorak kegirangan waktu kutunjukkan bola itu.

"Horee, Iya jadi pemain bola."


17 Tahun yang lalu

Iya, Iya. Bapak kan sudah bilang jangan main bola di jalan. Mainnya di

rumah aja. Coba kalau ia nurut, Bapak kan tidak akan seperti ini. Hari
itu hari Sabtu dan aku akan menjemputnya dari sekolah. Kulihat anakku
sedang asyik menendang bola sepanjang jalan pulang dari sekolah dan ia
semakin ketengah jalan. Aku berlari menghampirinya, rasa khawatirku
mengalahkan kehati-hatianku dan "Iyaaaa..." Sebuah truk pasir telak
menghantam tubuhku, lindasan ban besarnya berhenti di atas dua kakiku.
Waktu aku sadar, dua kakiku sudah diamputasi. Ya Tuhan, bagaimana ini.
Bayang-bayang kelam menyelimuti pikiranku, tanpa kaki, bagaimana aku
bekerja. Kulihat Kania menangis sedih, bibir cuma berkata "Coba kalau
kamu tak belikan ia bola!"


15 tahun yang lalu,

Perekonomianku morat marit setelah kecelakaan. Uang pesangon habis
untuk ke rumah sakit dan uang tabungan menguap jadi asap dapur. Kania
mulai banyak mengeluh dan Iya mulai banyak dibentak. Aku hanya bisa

membelainya. Dan bilang kalau Mamanya sedang sakit kepala makanya cepat
marah. Perabotan rumah yang bisa dijual sudah habis. Dan aku tak bisa
berkata apa-apa waktu Kania hendak mencari ke luar negeri. Dia ingin

penghasilan yang lebih besar untuk mencukupi kebutuhan Kamila. Diizinkan

atau tidak diizinkan dia akan tetap pergi. Begitu katanya. Dan akhirnya

dia memang pergi ke Malaysia.


13 tahun yang lalu,

Setahun sejak kepergian Kania, keuangan rumahku sedikit membaik tapi itu

hanya setahun. Setelah itu tak terdengar kabar lagi. Dengan segala
keprihatinan kupaksakan agar Kamila bisa melanjutkan sekolah. Aku
bekerja serabutan, mengerjakan pekerjaan yang bisa kukerjakan dengan
dua tanganku. Aku miris, menghadapi kenyataan. Menyaksikan anakku yang
tumbuh remaja dan aku tahu dia ingin menikmati dunianya. Tapi keadaanku
mengurungnya dalam segala kekurangan. Tapi aku harus kuat. Aku harus
tabah untuk mengajari Kamila hidup tegar.


10 tahun yang lalu,

Aku sedih, semua tetangga sering mengejek kecacatanku. Dan Kamila hanya
sanggup berlari ke dalam rumah lalu sembunyi di dalam kamar. Dia sering
jadi bulan-bulanan hinaan teman sebayanya. Tapi anakku memang sabar dia
tidak marah walau tak urung menangis juga. "Sabar ya, Nak!"
hiburku."Pak, Iya pake ****** aja ya, biar tidak diganggu!" pintanya
padaku. Dan aku menangis. Anakku maafkan bapakmu, hanya itu suara yang
sanggup kupendam dalam hatiku. Sejak hari itu, anakku tak pernah lepas
dari kerudungnya. Dan aku bahagia. Anakku, ternyata kamu sudah semakin
dewasa. Dia selalu tersenyum padaku. Dia tidak pernah menunjukkan
kekecewaannya padaku karena sekolahnya hanya terlambat di bangku SMP.


7 tahun yang lalu,

Aku merenung seharian. Ingatanku tentang Kania, istriku, kembali menemui

pikiranku. Aku tak mungkin bohong pada diriku sendiri, jika aku masih
menyimpan rindu untuknya. Dan itu pula yang membuat aku takut. Semalam
Kamila bilang dia ingin menjadi TKI ke Malaysia. Sulit baginya mencari
pekerjaan di sini yang cuma lulusan SMP. Haruskah aku melepasnya karena
alasan ekonomi. Dia bilang aku sudah tua, tenagaku mulai habis dan dia
ingin agar aku beristirahat. Dia berjanji akan rajin mengirimi aku uang
dan menabung untuk modal. Setelah itu dia akan pulang, menemaniku
kembali dan membuka usaha kecil-kecilan. Kali ini pun aku tak kuasa
untuk menghalanginya. Aku hanya berdoa agar Kamilaku baik-baik saja.


4 tahun lalu,

Kamila tak pernah telat mengirimi aku uang. Hampir tiga tahun dia di

sana. Dia bekerja sebagai seorang pelayan di rumah seorang nyonya. Tapi

Kamila tidak suka dengan laki-laki yang disebutnya datuk. Matanya tak

pernah siratkan sinar baik. Dia juga dikenal suka perempuan. Dan nyonya

itu adalah istri mudanya yang keempat. Dia bilang dia sudah ingin

pulang. Karena akhir-akhir ini dia sering diganggu. Lebaran tahun ini
dia akan berhenti bekerja. Itu yang kubaca dari suratnya. Aku senang
mengetahui itu dan selalu menunggu hingga masa itu tiba. Kamila bilang,
aku jangan pernah lupa salat dan kalau kondisiku sedang baik usahakan
untuk salat tahajjud. Kini anakku lebih pandai menasihati daripada aku.
Dan aku bangga.


3 tahun 6 bulan yang lalu,

Inikah badai? Aku mendapat surat dari kepolisian pemerintahan Malaysia,

kabarnya anakku ditahan. Dan dia diancam hukuman mati, karena dia

terbukti membunuh suami majikannya. Sesak dadaku mendapat kabar ini.
Aku menangis, aku tak percaya. Kamilaku yang lemah lembut tak mungkin

membunuh. Lagipula kenapa dia harus membunuh. Aku meminta bantuan hukum
dari Indonesia untuk menyelamatkan anakku dari maut. Hampir setahun aku
gelisah menunggu kasus anakku selesai. Tenaga tuaku terkuras dan
airmataku habis. Aku hanya bisa memohon agar anakku tidak dihukum mati
andai dia memang bersalah.


2 tahun 6 bulan yang lalu,

Akhirnya putusan itu jatuh juga, anakku terbukti bersalah. Dan dia harus

menjalani hukuman gantung sebagai balasannya. Aku tidak bisa apa-apa

selain menangis sejadinya. Andai aku tak izinkan dia pergi apakah
nasibnya tak akan seburuk ini? Andai aku tak belikan ia bola apakah
keadaanku pasti lebih baik? Aku kini benar-benar sendiri. Atas
permintaan anakku aku dijemput terbang ke Malaysia. Anakku ingin aku
ada di sisinya di saat terakhirnya. Lihatlah, dia kurus sekali. Dua
matanya sembab dan bengkak. Ingin rasanya aku berlari tapi apa daya
kakiku tak ada. Aku masuk ke dalam ruangan pertemuan itu, dia berhambur
ke arahku, memelukku erat, seakan tak ingin melepaskan aku.

"Bapak, Iya Takut!" aku memeluknya lebih erat lagi. Andai bisa ditukar,

aku ingin menggantikannya.

"Kenapa, Ya, kenapa kamu membunuhnya sayang?"

"Lelaki tua itu ingin Iya tidur dengannya, Pak. Iya tidak mau. Iya

dipukulnya. Iya takut, Iya dorong dan dia jatuh dari jendela kamar. Dan

dia mati. Iya tidak salah kan, Pak!"

Aku perih mendengar itu. Aku iba dengan nasib anakku. Masa mudanya

hilang begitu saja. Tapi aku bisa apa, istri keempat lelaki tua itu

menuntut agar anakku dihukum mati. Dia kaya dan lelaki itu juga orang

terhormat. Aku sudah berusaha untuk memohon keringanan bagi anakku,
tapi menemuiku pun ia tidak mau. Sia-sia aku tinggal di Malaysia selama
enam bulan untuk memohon hukuman pada wanita itu.


2 tahun yang lalu,

Hari ini, anakku akan dihukum gantung. Dan wanita itu akan hadir

melihatnya. Aku mendengar dari petugas jika dia sudah datang dan ada di

belakangku. Tapi aku tak ingin melihatnya. Aku melihat isyarat tangan

dari hakim di sana. Petugas itu membuka papan yang diinjak anakku. Dan

'blass" Kamilaku kini tergantung. Aku tak bisa lagi menangis. Aku
mendengar langkah kaki menuju jenazah anakku. Dia menyibak kain
penutupnya dan tersenyum sinis. Aku mendongakkan kepalaku, dan dengan
mataku yang samar oleh air mata aku melihat garis wajah yang kukenal.

"Kania?"

"Mas Har, kau . !"

"Kau ... kau bunuh anakmu sendiri, Kania!"

"Iya? Dia..dia . Iya?" serunya getir menunjuk jenazah anakku.

"Ya, dia Iya kita. Iya yang ingin jadi pemain bola jika sudah besar."

"Tidak ... tidaaak ... " Kania berlari ke arah jenazah anakku. Diguncang

tubuh kaku itu sambil menjerit histeris. Seorang petugas menghampiri

Kania dan memberikan secarik kertas yang tergenggam di tangannya waktu
dia diturunkan dari tiang gantungan. Bunyinya "Terima kasih Mama." Aku
baru sadar, kalau dari dulu Kamila sudah tahu wanita itu ibunya.


Setahun lalu,

Sejak saat itu istriku gila. Tapi apakah dia masih istriku. Yang aku

tahu, aku belum pernah menceraikannya. Terakhir kudengar kabarnya dia

mati bunuh diri. Dia ingin dikuburkan di samping kuburan anakku, Kamila.

Kata pembantu yang mengantarkan jenazahnya padaku, dia sering berteriak,

"Iya sayaaang, apalagi yang pecah, Nak." Kamu tahu Kania, kali ini yang

pecah adalah hatiku. Mungkin orang tua kita memang benar, tak
seharusnya kita menikah. Agar tak ada kesengsaraan untuk Kamila anak
kita. Benarkah begitu Iya sayang?


Sumber

Kata Kata Bijak


Percayalah dan lakukanlah sesuatu yang menurut kita benar
sebuah kata yang mengandng kebenaran adalah sebuah kata yang mampu menyentuh halus hati kita dengan berkata ini benar !!!
(By Anwar)






Masa depan adalah milik mereka yang percaya akan keindahan mimpi-mimpi mereka.

(Eleanor Roosevelt)



Jangan melihat ke belakang dengan kemarahan, atau ke depan dengan ketakutan, tetapi lihatlah ke sekelilingmu dengan kewaspadaan.

(James Thurber)



Tinggalkan kebaikan, lepaskan kebijaksanaan, orang akan menarik manfaat seribu kali

Tinggalkan kasih sayang, lepaskan moralitas, orang akan merangkul cinta kasih dan bakti kepada orang tua

Tinggalkan kecerdikan, lepaskan ketamakan, bandit dan pencuri akan sirna

(Lao Tzu, Tao Te Ching)



Bilamana anda menyembunyikan kehendak anda dari orang lain, namanya Mental Baja

Bilamana anda memaksakan kehendak anda terhadap orang lain, namanya Pantang Menyerah.

(Lee Zhong Wu)



Menaklukkan orang lain membutuhkan paksaan

Menaklukkan diri sebdiri membutuhkan kekuatan

(Lao Tzu)



Hanya orang yang berada di tengah-tengah yang sanggup menjadi yang terbaik

(Jean Giraudoux)



Jika seseorang itu kuat dan tegar, justru ia harus pandai-pandai menyamarkan diri agar terlihat lemah dan tak berdaya.

(Sun Tzu)



Manusia sangat bersusah payah untuk mendapatkan pengetahuan tentang dunia materi

Dipelajarinya seluruh cabang ilmu pengetahuan duniawi

Ia menjelajahi bumi, dan bahkan berwisata ke lautan

Namun ia tidak pernah mencoba mencari tahu apa yang ada di dalam dirinya sendiri

Karena ia tidak menyadari kekuatan yang luar biasa, yang tersembunyi di dalam dirinya, ia mencari dukungan dari dunia luar.

(Naskah Hindu Kuno)



Orang yang tidak mengalami kesialan berarti cukup beruntung.

(Anonim)



Bila anda ingin melakukan sesuatu, usahakan agar lawan anda melakukannya untuk anda.

(Asas Militer Cina)


Bila anda tidak mempunyai gelar yang tepat, orang tidak akan
mendengarkan anda; dan kalau mereka tidak mendengarkan, perintah anda
tidak akan dijalankan.

(Kong Hu Cu)



Untuk membasmi rumput, cabut akarnya;

Untuk membuat periuk berhenti mendidih, singkirkan bahan bakarnya.

(Pepatah Cina)



Orang-orang dengan mimpi berbeda dapat tidur bersama seranjang

(Pepatah Cina)



Jika kamu mengenali dirimu dan mengenali musuhmu, maka seratus pertempuran, seratus kemenangan.

(Sun Tzu)



Jika perkara kecil tidak bisa ditanggulangi, rencana besar akan berakhir dengan kekecewaan.

(Sam Kok)



Perang itu berdasarkan tipu muslihat

Bergeraklah hanya jika ada keuntungan nyata untuk diraih dan adakanlah
perubahan-perubahan situasi dengan membagi atau memusatkan pasukanmu.

Bergeraklah secepat angin, bersatulah seperti pohon-pohon di hutan

Serbu dan jarahlah musuh laksana api dan tegaklah laksana gunung

Biarkan rencanamu tak terhitung laksana awan yang berarak dan bergeraklah bak guntur yang menggelegar.

(Sun Tzu)



Adalah hal yang baik bila menjadi spesialis di dalam bidangmu. Jangan
berlagak di luar tingkat kemampuanmu dengan melakukan hal-hal yang tak
kamu pahami...

(Anonim)


Seseorang yang cerdik dapat mengambil pelajaran dari
kesalahan-kesalahannya sendiri; Yang paling cerdik mempelajari dari
kesalahan-kesalahan orang lain.

(Anonim)



Berkat sering menimbulkan luka, jadi hati-hatilah bila semua berjalan lancar.

Keberhasilan harus dicapai setelah kegagalan, jadi jangan menyerah bila kamu kecewa.

(Huanchu Daoren)

Sumber : Forum

Seribu Makna Dalam Cerita


Saat Belajar Di Kelas

Pada bulan ke-2 diawal kuliah saya, seorang Profesor memberikan quiz

mendadak pada kami. Karena kebetulan cukup menyimak semua

kuliah-kuliahnya, saya cukup cepat menyelesaikan soal-soal quiz,

sampai pada soal yang terakhir. Isi Soal terakhir ini adalah : Siapa
nama depan wanita yang menjadi petugas pembersih sekolah ?
. Saya yakin

soal ini cuma "bercanda". Saya sering melihat perempuan ini.

Tinggi,berambut gelap dan berusia sekitar 50-an, tapi bagaimana saya

tahu nama depannya... ? Saya kumpulkan saja kertas ujian saya, tentu

saja dengan jawaban soal terakhir kosong. Sebelum kelas usai, seorang

rekan bertanya pada

Profesor itu, mengenai soal terakhir akan "dihitung" atau tidak.

"Tentu Saja Dihitung !!" kata si Profesor. "Pada perjalanan karirmu,

kamu aka n ketemu banyak orang. Semuanya penting!. Semua harus kamu

perhatikan dan pelihara, walaupun itu cuma dengan sepotong senyuman,

atau sekilas "hallo"! Saya selalu ingat pelajaran itu. Saya kemudian

tahu, bahwa nama depan ibu pembersih sekolah adalah "Dorothy".


Ibu Negro dan Seorang pemuda

Malam itu, pukul setengah dua belas malam. Seorang wanita negro rapi
yang sudah berumur, sedang berdiri di tepi jalan tol Alabama . Ia
nampak mencoba bertahan dalam hujan yang sangat deras, yang hampir
seperti badai. Mobilnya kelihatannya lagi rusak, dan perempuan ini
sangat ingin menumpang mobil. Dalam keadaan basah kuyup, ia mencoba
menghentikan setiap mobil yang lewat. Mobil berikutnya dikendarai oleh
seorang pemuda bule, dia berhenti untuk menolong ibu ini. Kelihatannya
si bule ini tidak paham akan konflik etnis tahun 1960-an, yaitu pada
saat itu. Pemuda ini akhirnya membawa si ibu negro selamat hingga
suatu tempat, untuk menda patkan pertolongan, lalu mencarikan si ibu
ini taksi. Walaupun terlihat sangat tergesa-gesa, si ibu tadi bertanya
tentang alamat si pemuda itu, menulisnya, lalu mengucapkan terima
kasih pada si pemuda. 7 hari berlalu, dan tiba-tiba pintu rumah pemuda
bule ini diketuk Seseorang. Kejutan baginya, karena yang datang
ternyata kiriman sebuah televisi set besar berwarna (1960-an !) khusus
dikirim kerumahnya.Terselip surat kecil tertempel di televisi, yang
isinya adalah : " Terima kasih nak, karena membantuku di jalan Tol
malam itu. Hujan tidak hanya membasahi bajuku, tetapi juga jiwaku.
Untung saja anda datang dan menolong saya. Karena pertolongan anda,
saya masih sempat untuk hadir disisi suamiku yang sedang
sekarat...hingga wafatnya. Tuhan memberkati anda,karena membantu saya
dan tidak mementingkan dirimu pada saat itu" Tertanda Ny.Nat King
Cole.


Catatan : Nat King Cole, adalah penyanyi negro tenar thn. 60-an di USA

Sumber : Forum

Lelaki yang gelisah

Laki -laki kok nangis.......????? itu adalah kata kata seorang teman yang merasa paling berani.. kepada temanya lagi yang dianggapnya cengeng....
Tapi klo menurut Q...Laki - laki menangis itu gak papa ....pi..lihat nangisnya karena apa........
nih ada sebuah cerita yang membuat saya sebagai laki laki yang bisa mengalirkan air mata karena...isinya yang benar - benar menyentuh...hati saya....High.........high......


Lelaki yang gelisah (kisah yang menyentuh)

Dear All,
Rasanya ini baik untuk direnungkan setiap kita yang merasa "berkecukupan" dan selalu "dimanja" oleh Tuhan.
--------------------------------------------------------------------------------
Dari pinggir kaca nako, di antara celah kain gorden, saya melihat lelaki itu mondar-mandir di depan rumah. Matanya berkali-kali melihat ke rumah saya.Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap keringat di keningnya.

Dada saya berdebar menyaksikannya. Apa maksud remaja yang bisa jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung saya yang baru kelas 2 SMU itu? Melihat tingkah lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk dengan keluarga saya? Mau merampok? Bukankah sekarang ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang hari saat orang-orang lalu-lalang pun penodong bisa beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau dia punya masalah dengan Yudi, anak saya?

Kenakalan remaja saat ini tidak lagi enteng. Tawuran telah menjadikan puluhan remaja meninggal. Saya berdoa semoga lamunan itu salah semua. Tapi mengingat peristiwa buruk itu bisa saja terjadi, saya mengunci seluruh pintu dan jendela rumah. Di rumah ini, pukul sepuluh pagi seperti ini, saya hanya seorang diri. Kang Yayan, suami saya, ke kantor. Yudi sekolah, Yuni yang sekolah sore pergi les Inggris, dan Bi Nia sudah seminggu tidak masuk.

Jadi kalau lelaki yang selalu memperhatikan rumah saya itu menodong, saya bisa apa? Pintu pagar rumah memang terbuka. Siapa saja bisa masuk.

Tapi mengapa anak muda itu tidak juga masuk? Tidakkah dia menunggu sampai tidak ada orang yang memergoki? Saya sedikit lega saat anak muda itu berdiri di samping tiang telepon. Saya punya pikiran lain. Mungkin dia sedang menunggu seseorang, pacarnya, temannya, adiknya, atau siapa saja yang janjian untuk bertemu di tiang telepon itu. Saya memang tidak mesti berburuk sangka seperti tadi. Tapi dizaman ini, dengan peristiwa-peristiwa buruk, tenggang rasa yang semakin menghilang, tidakkah rasa curiga lebih baik daripada lengah?

Saya masih tidak beranjak dari persembunyian, di antara kain gorden, di samping kaca nako. Saya masih was-was karena anak muda itu sesekali masih melihat ke rumah. Apa maksudnya? Ah, bukankah banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak ada jawabannya.

Terlintas di pikiran saya untuk menelepon tetangga. Tapi saya takut jadi ramai. Bisa-bisa penduduk se-kompleks mendatangi anak muda itu. Iya kalau anak itu ditanya-tanya secara baik, coba kalau belum apa-apa ada yang memukul.

Tiba-tiba anak muda itu membalikkan badan dan masuk ke halaman rumah. Debaran jantung saya mengencang kembali. Saya memang mengidap penyakit jantung. Tekad saya untuk menelepon tetangga sudah bulat, tapi kaki saya tidak bisa melangkah. Apalagi begitu anak muda itu mendekat, saya ingat, saya pernah melihatnya dan punya pengalaman buruk dengannya. Tapi anak muda itu tidak lama di teras rumah. Dia hanya memasukkan sesuatu ke celah di atas pintu dan bergegas pergi. Saya masih belum bisa mengambil benda itu karena kaki saya masih lemas.

* * *

Saya pernah melihat anak muda yang gelisah itu di jembatan penyeberangan, entah seminggu atau dua minggu yang lalu. Saya pulang membeli bumbu kue waktu itu. Tiba-tiba di atas jembatan penyeberangan, saya ada yang menabrak, saya hampir jatuh. Si penabrak yang tidak lain adalah anak muda yang gelisah dan mondar-mandir di depan rumah itu, meminta maaf dan bergegas mendahului saya. Saya jengkel, apalagi begitu sampai di rumah saya tahu dompet yang disimpan di kantong plastik, disatukan dengan bumbu kue, telah raib.

Dan hari ini, lelaki yang gelisah dan si penabrak yang mencopet itu, mengembalikan dompet saya lewat celah di atas pintu. Setelah saya periksa, uang tiga ratus ribu lebih, cincin emas yang selalu saya simpan di dompet bila bepergian, dan surat-surat penting, tidak ada yang berkurang.

Lama saya melihat dompet itu dan melamun. Seperti dalam dongeng. Seorang anak muda yang gelisah, yang siapa pun saya pikir akan mencurigainya, dalam situasi perekonomian yang morat-marit seperti ini, mengembalikan uang yang telah digenggamnya. Bukankah itu ajaib, seperti dalam dongeng. Atau hidup ini memang tak lebih dari sebuah dongengan?

Bersama dompet yang dimasukkan ke kantong plastik hitam itu saya menemukan surat yang dilipat tidak rapi. Saya baca surat yang berhari-hari kemudian tidak lepas dari pikiran dan hati saya itu. Isinya seperti ini: "Ibu yang baik, maafkan saya telah mengambil dompet Ibu. Tadinya saya mau mengembalikan dompet Ibu saja, tapi saya tidak punya tempat untuk mengadu, maka saya tulis surat ini, semoga Ibu mau membacanya. Sudah tiga bulan saya berhenti sekolah. Bapak saya di-PHK dan tidak mampu membayar uang SPP yang berbulan-bulan sudah nunggak, membeli alat-alat sekolah dan memberi ongkos. Karena kemampuan keluarga yang minim itu saya berpikir tidak apa-apa saya sekolah sampai kelas 2 STM saja. Tapi yang membuat saya sakit hati, Bapak kemudian sering mabuk dan judi buntut yang beredar sembunyi-sembunyi itu.

Adik saya yang tiga orang, semuanya keluar sekolah. Emak berjualan goreng-gorengan yang dititipkan di warung-warung. Adik-adik saya membantu mengantarkannya. Saya berjualan koran, membantu-bantu untuk beli beras.

Saya sadar, kalau keadaan seperti ini, saya harus berjuang lebih keras. Saya mau melakukannya. Dari pagi sampai malam saya bekerja. Tidak saja jualan koran, saya juga membantu nyuci piring di warung nasi dan kadang (sambil hiburan) saya ngamen. Tapi uang yang pas-pasan itu (Emak sering gagal belajar menabung dan saya maklum), masih juga diminta Bapak untuk memasang judi kupon gelap. Bilangnya nanti juga diganti kalau angka tebakannya tepat. Selama ini belum pernah tebakan Bapak tepat. Lagi pula Emak yang taat beribadah itu tidak akan mau menerima uang dari hasil judi, saya yakin itu.

Ketika Bapak semakin sering meminta uang kepada Emak, kadang sambil marah-marah dan memukul, saya tidak kuat untuk diam. Saya mengusir Bapak. Dan begitu Bapak memukul, saya membalasnya sampai Bapak terjatuh-jatuh. Emak memarahi saya sebagai anak laknat. Saya sakit hati. Saya bingung. Mesti bagaimana saya?

Saat Emak sakit dan Bapak semakin menjadi dengan judi buntutnya, sakit hati saya semakin menggumpal, tapi saya tidak tahu sakit hati oleh siapa. Hanya untuk membawa Emak ke dokter saja saya tidak sanggup. Bapak yang semakin sering tidur entah di mana, tidak perduli. Hampir saya memukulnya lagi.

Di jalan, saat saya jualan koran, saya sering merasa punya dendam yang besar tapi tidak tahu dendam oleh siapa dan karena apa. Emak tidak bisa ke dokter. Tapi orang lain bisa dengan mobil mewah melenggang begitu saja di depan saya, sesekali bertelepon dengan handphone. Dan di seberang stopan itu, di warung jajan bertingkat, orang-orang mengeluarkan ratusan ribu untuk sekali makan.

Maka tekad saya, Emak harus ke dokter. Karena dari jualan koran tidak cukup, saya merencanakan untuk mencopet. Berhari-hari saya mengikuti bus kota, tapi saya tidak pernah berani menggerayangi saku orang. Keringat dingin malah membasahi baju. Saya gagal jadi pencopet.

Dan begitu saya melihat orang-orang belanja di toko, saya melihat Ibu memasukkan dompet ke kantong plastik. Maka saya ikuti Ibu. Di atas jembatan penyeberangan, saya pura-pura menabrak Ibu dan cepat mengambil dompet. Saya gembira ketika mendapatkan uang 300 ribu lebih.

Saya segera mendatangi Emak dan mengajaknya ke dokter. Tapi Ibu, Emak malah menatap saya tajam. Dia menanyakan, dari mana saya dapat uang. Saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu tabungan saya, atau meminjam dari teman. Tapi saya tidak bisa berbohong. Saya mengatakan sejujurnya, Emak mengalihkan pandangannya begitu saya selesai bercerita.

Di pipi keriputnya mengalir butir-butir air. Emak menangis. Ibu, tidak pernah saya merasakan kebingungan seperti ini. Saya ingin berteriak. Sekeras-kerasnya. Sepuas-puasnya. Dengan uang 300 ribu lebih sebenarnya saya bisa makan-makan, mabuk, hura-hura. Tidak apa saya jadi pencuri. Tidak perduli dengan Ibu, dengan orang-orang yang kehilangan. Karena orang-orang pun tidak perduli kepada saya. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Saya harus mengembalikan dompet Ibu. Maaf."

Surat tanpa tanda tangan itu berulang kali saya baca. Berhari-hari saya mencari-cari anak muda yang bingung dan gelisah itu. Di setiap stopan tempat puluhan anak-anak berdagang dan mengamen. Dalam bus-bus kota. Di taman-taman. Tapi anak muda itu tidak pernah kelihatan lagi. Siapapun yang berada di stopan, tidak mengenal anak muda itu ketika saya menanyakannya.

Lelah mencari, di bawah pohon rindang, saya membaca dan membaca lagi surat dari pencopet itu. Surat sederhana itu membuat saya tidak tenang. Ada sesuatu yang mempengaruhi pikiran dan perasaan saya. Saya tidak lagi silau dengan segala kemewahan. Ketika Kang Yayan membawa hadiah-hadiah istimewa sepulang kunjungannya ke luar kota, saya tidak segembira biasanya.Saya malah mengusulkan oleh-oleh yang biasa saja.

Kang Yayan dan kedua anak saya mungkin aneh dengan sikap saya akhir-akhir ini. Tapi mau bagaimana, hati saya tidak bisa lagi menikmati kemewahan. Tidak ada lagi keinginan saya untuk makan di tempat-tempat yang harganya ratusan ribu sekali makan, baju-baju merk terkenal seharga jutaan, dan sebagainya.

Saya menolaknya meski Kang Yayan bilang tidak apa sekali-sekali. Saat saya ulang tahun, Kang Yayan menawarkan untuk merayakan di mana saja. Tapi saya ingin memasak di rumah, membuat makanan, dengan tangan saya sendiri. Dan siangnya, dengan dibantu Bi Nia, lebih seratus bungkus nasi saya bikin. Diantar Kang Yayan dan kedua anak saya, nasi-nasi bungkus dibagikan kepada para pengemis, para pedagang asongan dan pengamen yang banyak di setiap stopan.

Di stopan terakhir yang kami kunjungi, saya mengajak Kang Yayan dan kedua anak saya untuk makan bersama. Diam-diam air mata mengalir dimata saya.

Yuni menghampiri saya dan bilang, "Mama, saya bangga jadi anak Mama." Dan saya ingin menjadi Mama bagi ribuan anak-anak lainnya.
--------------------------------------------------------------------------------

Laki-Laki Sejati


Cerpen
Putu Wijaya
Dimuat di
Jawa Pos
07/10/2005
Telah Disimak 804 kali



Seorang perempuan muda bertanya kepada ibunya.
Ibu, lelaki sejati itu seperti apa?

Ibunya
terkejut. Ia memandang takjub pada anak yang di luar pengamatannya
sudah menjadi gadis jelita itu. Terpesona, karena waktu tak mau
menunggu. Rasanya baru kemarin anak itu masih ngompol di sampingnya
sehingga kasur berbau pesing. Tiba-tiba saja kini ia sudah menjadi
perempuan yang punya banyak pertanyaan.

Sepasang matanya yang
dulu sering belekan itu, sekarang bagai sorot lampu mobil pada malam
gelap. Sinarnya begitu tajam. Sekelilingnya jadi ikut memantulkan
cahaya. Namun jalan yang ada di depan hidungnya sendiri, yang sedang ia
tempuh, nampak masih berkabut. Hidup memang sebuah rahasia besar yang
tak hanya dialami dalam cerita di dalam pengalaman orang lain, karena
harus ditempuh sendiri.

Kenapa kamu menanyakan itu, anakku?
Sebab aku ingin tahu.
Dan sesudah tahu?
Aku tak tahu.

Wajah
gadis itu menjadi merah. Ibunya paham, karena ia pun pernah muda dan
ingin menanyakan hal yang sama kepada ibunya, tetapi tidak berani.
Waktu itu perasaan tidak pernah dibicarakan, apalagi yang menyangkut
cinta. Kalaupun dicoba, jawaban yang muncul sering menyesatkan. Karena
orang tua cenderung menyembunyikan rahasia kehidupan dari anak-anaknya
yang dianggapnya belum cukup siap untuk mengalami. Kini segalanya sudah
berubah. Anak-anak ingin tahu tak hanya yang harus mereka ketahui,
tetapi semuanya. Termasuk yang dulu tabu. Mereka senang pada bahaya.
Setelah menarik napas, ibu itu mengusap kepala putrinya dan berbisik.

Jangan
malu, anakku. Sebuah rahasia tak akan menguraikan dirinya, kalau kau
sendiri tak penasaran untuk membukanya. Sebuah rahasia dimulai dengan
rasa ingin tahu, meskipun sebenarnya kamu sudah tahu. Hanya karena kamu
tidak pernah mengalami sendiri, pengetahuanmu hanya menjadi potret
asing yang kamu baca dari buku. Banyak orang tua menyembunyikannya,
karena pengetahuan yang tidak perlu akan membuat hidupmu berat dan
mungkin sekali patah lalu berbelok sehingga kamu tidak akan pernah
sampai ke tujuan. Tapi ibu tidak seperti itu. Ibu percaya zaman
memberikan kamu kemampuan lain untuk menghadapi bahaya-bahaya yang juga
sudah berbeda. Jadi ibu akan bercerita. Tetapi apa kamu siap menerima
kebenaran walaupun itu tidak menyenangkan?
Maksud Ibu?
Lelaki sejati anakku, mungkin tidak seperti yang kamu bayangkan.
Kenapa tidak?

Sebab
di dalam mimpi, kamu sudah dikacaukan oleh bermacam-macam harapan yang
meluap dari berbagai kekecewaan terhadap laki-laki yang tak pernah
memenuhi harapan perempuan. Di situ yang ada hanya perasaan keki.
Apakah itu salah?

Ibu
tidak akan bicara tentang salah atau benar. Ibu hanya ingin kamu
memisahkan antara perasaan dan pikiran. Antara harapan dan kenyataan.

Aku
selalu memisahkan itu. Harapan adalah sesuatu yang kita inginkan
terjadi yang seringkali bertentangan dengan apa yang kemudian ada di
depan mata. Harapan menjadi ilusi, ia hanya bayang-bayang dari hati.
Itu aku mengerti sekali. Tetapi apa salahnya bayang-bayang? Karena
dengan bayang-bayang itulah kita tahu ada sinar matahari yang menyorot,
sehingga berkat kegelapan, kita bisa melihat bagian-bagian yang
diterangi cahaya, hal-hal yang nyata yang harus kita terima, meskipun
itu bertentangan dengan harapan.
Ibunya tersenyum.
Jadi kamu masih ingat semua yang ibu katakan?
Kenapa tidak?
Berarti kamu sudah siap untuk melihat kenyataan?
Aku siap. Aku tak sabar lagi untuk mendengar. Tunjukkan padaku bagaimana laki-laki sejati itu.

Ibu
memejamkan matanya. Ia seakan-akan mengumpulkan seluruh unsur yang
berserakan di mana-mana, untuk membangun sebuah sosok yang jelas dan
nyata.

Laki-laki yang sejati, anakku katanya kemudian, adalah… tetapi ia tak melanjutkan.
Adalah?
Adalah seorang laki-laki yang sejati.
Ah, Ibu jangan ngeledek begitu, aku serius, aku tak sabar.

Bagus,
Ibu hanya berusaha agar kamu benar-benar mendengar setiap kata yang
akan ibu sampaikan. Jadi perhatikan dengan sungguh-sungguh dan jangan
memotong, karena laki-laki sejati tak bisa diucapkan hanya dengan satu
kalimat. Laki-laki sejati anakku, lanjut ibu sambil memandang ke depan,
seakan-akan ia melihat laki-laki sejati itu sedang melangkah di udara
menghampiri penjelmaannya dalam kata-kata.
Laki-laki sejati adalah…
Laki-laki yang perkasa?!

Salah!
Kan barusan Ibu bilang, jangan menyela! Laki-laki disebut laki-laki
sejati, bukan hanya karena dia perkasa! Tembok beton juga perkasa,
tetapi bukan laki-laki sejati hanya karena dia tidak tembus oleh peluru
tidak goyah oleh gempa tidak tembus oleh garukan tsunami, tetapi dia
harus lentur dan berjiwa. Tumbuh, berkembang bahkan berubah, seperti
juga kamu.
O ya?

Bukan karena ampuh, bukan juga karena tampan
laki-laki menjadi sejati. Seorang lelaki tidak menjadi laki-laki sejati
hanya karena tubuhnya tahan banting, karena bentuknya indah dan
proporsinya ideal. Seorang laki-laki tidak dengan sendirinya menjadi
laki-laki sejati karena dia hebat, unggul, selalu menjadi pemenang,
berani dan rela berkorban. Seorang laki-laki belum menjadi laki-laki
sejati hanya karena dia kaya-raya, baik, bijaksana, pintar bicara,
beriman, menarik, rajin sembahyang, ramah, tidak sombong, tidak suka
memfitnah, rendah hati, penuh pengertian, berwibawa, jago bercinta,
pintar mengalah, penuh dengan toleransi, selalu menghargai orang lain,
punya kedudukan, tinggi pangkat atau punya karisma serta banyak akal.
Seorang laki-laki tidak menjadi laki-laki sejati hanya karena dia
berjasa, berguna, bermanfaat, jujur, lihai, pintar atau jenius. Seorang
laki-laki meskipun dia seorang idola yang kamu kagumi, seorang
pemimpin, seorang pahlawan, seorang perintis, pemberontak dan pembaru,
bahkan seorang yang arif-bijaksana, tidak membuat dia otomatis menjadi
laki-laki sejati!
Kalau begitu apa dong?

Seorang laki-laki
sejati adalah seorang yang melihat yang pantas dilihat, mendengar yang
pantas didengar, merasa yang pantas dirasa, berpikir yang pantas
dipikir, membaca yang pantas dibaca, dan berbuat yang pantas dibuat,
karena itu dia berpikir yang pantas dipikir, berkelakuan yang pantas
dilakukan dan hidup yang sepantasnya dijadikan kehidupan.
Perempuan muda itu tercengang.
Hanya itu?
Seorang laki-laki sejati adalah seorang laki-laki yang satu kata dengan perbuatan!
Orang yang konsekuen?
Lebih dari itu!
Seorang yang bisa dipercaya?
Semuanya!
Perempuan muda itu terpesona.

Apa
yang lebih dari yang satu kata dan perbuatan? Tulus dan semuanya?
Ahhhhh! Perempuan muda itu memejamkan matanya, seakan-akan mencoba
membayangkan seluruh sifat itu mengkristal menjadi sosok manusia dan
kemudian memeluknya. Ia menikmati lamunannya sampai tak sanggup
melanjutkan lagi ngomong. Dari mulutnya terdengar erangan kecil, kagum,
memuja dan rindu. Ia mengalami orgasme batin.

Ahhhhhhh, gumannya
terus seperti mendapat tusukan nikmat. Aku jatuh cinta kepadanya dalam
penggambaran yang pertama. Aku ingin berjumpa dengan laki-laki seperti
itu. Katakan di mana aku bisa menjumpai laki-laki sejati seperti itu,
Ibu?

Ibu tidak menjawab. Dia hanya memandang anak gadisnya seperti kasihan. Perempuan muda itu jadi bertambah penasaran.
Di mana aku bisa berkenalan dengan dia?
Untuk apa?

Karena
aku akan berkata terus-terang, bahwa aku mencintainya. Aku tidak akan
malu-malu untuk menyatakan, aku ingin dia menjadi pacarku, mempelaiku,
menjadi bapak dari anak-anakku, cucu-cucu Ibu. Biar dia menjadi teman
hidupku, menjadi tongkatku kalau nanti aku sudah tua. Menjadi orang
yang akan memijit kakiku kalau semutan, menjadi orang yang membesarkan
hatiku kalau sedang remuk dan ciut. Membangunkan aku pagi-pagi kalau
aku malas dan tak mampu lagi bergerak. Aku akan meminangnya untuk
menjadi suamiku, ya aku tak akan ragu-ragu untuk merayunya menjadi
menantu Ibu, penerus generasi kita, kenapa tidak, aku akan merebutnya,
aku akan berjuang untuk memilikinya.
Dada perempuan muda itu turun naik.

Apa
salahnya sekarang wanita memilih laki-laki untuk jadi suami, setelah
selama berabad-abad kami perempuan hanya menjadi orang yang menunggu
giliran dipilih?
Perempuan muda itu membuka matanya. Bola mata itu berkilat-kilat. Ia memegang tangan ibunya.
Katakan cepat Ibu, di mana aku bisa menjumpai laki-laki itu?
Bunda menarik nafas panjang. Gadis itu terkejut.
Kenapa Ibu menghela nafas sepanjang itu?
Karena kamu menanyakan sesuatu yang sudah tidak mungkin, sayang.
Apa? Tidak mungkin?
Ya.
Kenapa?
Karena laki-laki sejati seperti itu sudah tidak ada lagi di atas dunia.
Oh, perempuan muda itu terkejut.
Sudah tidak ada lagi?
Sudah habis.
Ya Tuhan, habis? Kenapa?
Laki-laki sejati seperti itu semuanya sudah amblas, sejak ayahmu meninggal dunia.
Perempuan muda itu menutup mulutnya yang terpekik karena kecewa.
Sudah amblas?

Ya.
Sekarang yang ada hanya laki-laki yang tak bisa lagi dipegang mulutnya.
Semuanya hanya pembual. Aktor-aktor kelas tiga. Cap tempe semua. Banyak
laki-laki yang kuat, pintar, kaya, punya kekuasaan dan bisa berbuat apa
saja, tapi semuanya tidak bisa dipercaya. Tidak ada lagi laki-laki
sejati anakku. Mereka tukang kawin, tukang ngibul, semuanya bakul jamu,
tidak mau mengurus anak, apalagi mencuci celana dalammu, mereka buas
dan jadi macan kalau sudah dapat apa yang diinginkan. Kalau kamu sudah
tua dan tidak rajin lagi meladeni, mereka tidak segan-segan menyiksa
menggebuki kaum perempuan yang pernah menjadi ibunya. Tidak ada lagi
laki-laki sejati lagi, anakku. Jadi kalau kamu masih merindukan
laki-laki sejati, kamu akan menjadi perawan tua. Lebih baik hentikan
mimpi yang tak berguna itu.
Gadis itu termenung. Mukanya nampak sangat murung.
Jadi tak ada harapan lagi, gumamnya dengan suara tercekik putus asa. Tak ada harapan lagi. Kalau begitu aku patah hati.
Patah hati?
Ya. Aku putus asa.
Kenapa mesti putus asa?
Karena apa gunanya lagi aku hidup, kalau tidak ada laki-laki sejati?
Ibunya kembali mengusap kepala anak perempuan itu, lalu tersenyum.

Kamu
terlalu muda, terlalu banyak membaca buku dan duduk di belakang meja.
Tutup buku itu sekarang dan berdiri dari kursi yang sudah memenjarakan
kamu itu. Keluar, hirup udara segar, pandang lagit biru dan daun-daun
hijau. Ada bunga bakung putih sedang mekar beramai-ramai di pagar,
dunia tidak seburuk seperti yang kamu bayangkan di dalam kamarmu. Hidup
tidak sekotor yang diceritakan oleh buku-buku dalam perpustakaanmu
meskipun memang tidak seindah mimpi-mimpimu. Keluarlah anakku, cari
seseorang di sana, lalu tegur dan bicara! Jangan ngumpet di sini!
Aku tidak ngumpet!
Jangan lari!
Siapa yang lari?
Mengurung diri itu lari atau ngumpet. Ayo keluar!
Keluar ke mana?
Ke jalan! Ibu menunjuk ke arah pintu yang terbuka. Bergaul dengan masyarakat banyak.
Gadis itu termangu.
Untuk apa? Dalam rumah kan lebih nyaman?
Kalau begitu kamu mau jadi kodok kuper!
Tapi aku kan banyak membaca? Aku hapal di luar kepala sajak-sajak Kahlil Gibran!

Tidak
cukup! Kamu harus pasang omong dengan mereka, berdialog akan membuat
hatimu terbuka, matamu melihat lebih banyak dan mengerti pada
kelebihan-kelebihan orang lain.
Perempuan muda itu menggeleng.
Tidak ada gunanya, karena mereka bukan laki-laki sejati.
Makanya keluar. Keluar sekarang juga!
Keluar?
Ya.

Perempuan
muda itu tercengang, suara ibunya menjadi keras dan memerintah. Ia
terpaksa meletakkan buku, membuka earphone yang sejak tadi
menyemprotkan musik R & B ke dalam kedua telinganya, lalu keluar
kamar.

Matahari sore terhalang oleh awan tipis yang berasal dari
polusi udara. Tetapi itu justru menolong matahari tropis yang garang
itu untuk menjadi bola api yang indah. Dalam bulatan yang hampir
sempurna, merahnya menyala namun lembut menggelincir ke kaki langit.
Silhuet seekor burung elang nampak jauh tinggi melayang-layang
mengincer sasaran. Wajah perempuan muda itu tetap kosong.
Aku tidak memerlukan matahari, aku memerlukan seorang laki-laki sejati, bisiknya.
Makanya keluar dari rumah dan lihat ke jalanan!
Untuk apa?

Banyak
laki-laki di jalanan. Tangkap salah satu. Ambil yang mana saja,
sembarangan dengan mata terpejam juga tidak apa-apa. Tak peduli siapa
namanya, bagaimana tampangnya, apa pendidikannya, bagaimana otaknya dan
tak peduli seperti apa perasaannya. Gaet sembarang laki-laki yang mana
saja yang tergapai oleh tanganmu dan jadikan ia teman hidupmu!

Perempuan
muda itu tecengang. Hampir saja ia mau memprotes. Tapi ibunya keburu
memotong. Asal, lanjut ibunya dengan suara lirih namun tegas, asal, ini
yang terpenting anakku, asal dia benar-benar mencintaimu dan kamu
sendiri juga sungguh-sungguh mencintainya. Karena cinta, anakku, karena
cinta dapat mengubah segala-galanya.
Perempuan muda itu tercengang.

Dan
lebih dari itu, lanjut ibu sebelum anaknya sempat membantah, lebih dari
itu anakku, katanya dengan suara yang lebih lembut lagi namun semakin
tegas, karena seorang perempuan, anakku, siapa pun dia, dari mana pun
dia, bagaimana pun dia, setiap perempuan, setiap perempuan anakku,
dapat membuat seorang lelaki, siapa pun dia, bagaimana pun dia, apa pun
pekerjaannya bahkan bagaimana pun kalibernya, seorang perempuan dapat
membuat setiap lelaki menjadi seorang laki-laki yang sejati! ***

Denpasar, akhir 2004 sumber http://sriti.com





Menunggu saat Bintang Jatuh



Cerpen
Emi Teja K.D.
Dimuat di
Pontianak Post
06/08/2008
Telah Disimak 21 kali





LANGIT indah bertabur temaram bintang malam ini. Sang dewi malam
dengan anggun menebar senyumnya yang merekah. Seperti bibir bidadari
surga. Lama rasanya aku melupakan atap dunia itu. Aku terlalu sibuk
berada di bumi hingga tak sempat menengok langit. Bintang, benda langit
itu berkerlap-kerlip seakan menggodaku. Bagai tangan malaikat yang
melambai agar aku menghampirinya. Ia mengingatkanku pada mitos bintang
jatuh.

Kata orang, bintang jatuh dapat mengabulkan permintaan
manusia. Benarkah? Jika iya, aku rela menunggu benda langit itu
tertarik gravitasi bumi, meski harus menantinya tiap malam, hanya untuk
satu permintaan. Ah, kenapa pula aku jadi seperti bocah. Mana mungkin
benda langit yang tak mampu melawan takdir untuk dirinya sendiri
tersebut mampu mengabulkan keinginan makhuk lain?

Seandainya
bintang jatuh mampu mengabulkan keinginan, pasti dia akan meminta
sendiri kepada Tuhan agar kontraknya di atap dunia diperpanjang.
Buktinya, ia memilih menuruti kehendak alam.

Sayang, saat ini,
aku yang sedang sentimentil merasa bintang yang menggoda itu seakan
seperti pantulan cermin atas diriku sendiri. Awalnya begitu indah,
tinggi di awang-awang namun tak terjamah, jauh, dan jika Tuhan
menghendakinya jatuh, ia tak mampu melawan.

Aku terlahir sebagai
bocah desa biasa, anak buruh tani. Kedua orang tuaku tak lulus SD,
begitu juga kedua kakak perempuanku. Mereka menikah di usia yang masih
sangat belia, menjadi ibu rumah tangga, mengurusi anak, suami, dan
dapur.

Status yang menurutku benar-benar rendah dan aku tak mau
seperti mereka. Adalah Pak Ahmad, kepala desaku yang menjadi
kepanjangan tangan Tuhan mengubah seluruh duniaku. Beliau mengangkatku
menjadi anak asuhnya sejak aku SD karena terkesan dengan prestasi
belajarku saat aku menjadi juara 1 lomba cerdas cermat se-kecamatan.

Sejak
saat itu, beliau menanggung semua biaya pendidikan, termasuk semua
keperluanku. Aku tak pernah kekurangan apa pun. Semua yang aku mau,
sekarang aku minta, esok pagi saat aku baru membuka mata, pasti aku
telah mendapatkannya. Aku cantik, setidaknya aku primadona desa. Aku
juga sudah memiliki belahan hati yang telah kuyakini adalah jodohku.
Laki-laki tersebut bernama Awan. Itu yang dulu aku namai keberuntungan.

Aku menikmati semua anugerah Tuhan tersebut. Tapi, saat ini
tidak demikian, aku berharap ada bintang jatuh, berharap mitos
tentangnya benar. Satu keinginan yang ingin aku minta adalah aku tak
ingin jadi diriku sekarang. Aku ingin menjadi Sekar, gadis desa anak
Pak Kardi dan Ibu Karmi, buruh tani yang tak lulus SD. Aku ingin
seperti Mbak Gendis dan Mbak Elok.

Semua masih biasa saja
sampai kemarin, namun sebuah kejadian tadi siang benar-benar menjungkir
balik duniaku. Seharusnya, siang ini menjadi saat paling indah dalam
hidupku. Sebulan yang lalu, Awan mengungkapkan niat untuk melamarku dan
aku setuju. Aku telah merangkai jutaan angan tentang masa depan kami,
tentang rumah mungil yang hangat. Tentang bayi-bayi lucu yang kelak
menjadi calon profesor.

Sebuah hal yang tak aku duga, ternyata,
merusak segalanya. Kedatangan Awan hari ini tak kunyana tak mendapatkan
sambutan baik dari bapak angkatku. Beliau menolak mentah-mentah niat
Awan untuk meminangku. Bahkan, beliau bersumpah tidak akan menyetujui
hubungan kami sampai kapan pun. Aku tak pernah melihat bapak semarah
itu, tidak sama sekali sejak 11 tahun aku mengenal beliau.

Tapi,
hari ini malaikat itu berubah menjadi monster paling menakutkan. Semua
tak seperti kemarin lagi. Dunia tak lagi indah bagiku, meski langit
sedang berpesta di atas sana. Hatiku terasa jauh lebih sakit saat tadi
sore, setelah bencana itu, aku pulang ke rumah orang tua kandungku. Aku
menceritakan semuanya, namun tak memperoleh pembelaan di sana. Di rumah
orang tua yang telah melahirkanku.

"Kamu sudah dewasa, kamu
sudah jadi wong pinter nduk, dan semua itu karena jasa Pak Ahmad, bapak
angkatmu. Jangan jadi anak durhaka Sekar, mintalah maaf kepadanya dan
turuti apa yang beliau minta." Hatiku sakit mendengar kalimat itu,
ringan keluar dari bibir ibu, wanita yang mengandung dan melahirkanku.
Meski tanpa melihat wajah beliau, aku tahu tak ada beban dari nada
suaranya. Ah ibu, apa benar tak ada lagi cintamu untukku?

Langit
masih bertabur bintang di atas sana, masih menyiratkan keindahan alam
awang-awang nun tak terjamah. Angin malam mulai membuatku menggigil.
Aku baru sadar, aku tidak sedang di rumah Pak Kepala Desa yang megah
dan hangat. Namun, aku sedang meringkuk di sudut balai desa tak
berdinding, tanpa alas, dan tanpa teman.

Aku tak tau apakah
bapak angkatku saat ini sedang sibuk mencariku atau hanya diam di rumah
menungguku pulang sendiri. Meminta maaf kepadanya, lalu dengan santun
mengatakan bahwa aku akan ikhlas menerima apa pun yang beliau mau.

Baru
kali ini aku tahu betapa berharga sebuah kemerdekaan dan kebebasan
menentukan pilihan sendiri. Andai aku bisa, aku ingin kembali ke masa
lalu, aku tak ingin mengenal seseorang yang pernah aku anggap malaikat
itu. Tak apalah aku hanya menjadi gadis desa yang bodoh, seperti yang
lain, hidup bersama Awan.

Awan, mengingatnya kembali membuat
dadaku sesak. Aku bodoh, aku lemah, dan aku tak mampu melawan. Kuintip
lagi langit yang tampak jelas dari tempatku menyudut, tetap semarak
meski sangat sepi. Pasti sudah lewat dini hari, kelengangan meraja.

****

Silau
mentari menerpa wajahku, aku menyipitkan mata karenanya. Hari sudah
terang. Aku tersentak kaget saat menyadari ada seseorang di dekatku.
Bapak? Bagaimana bisa orang yang kuhujat semalaman itu tiba-tiba duduk
di dekatku. Sebuah sarung kotak-kotak warna hijau menyelimuti tubuhku.

Aku
kenal betul benda itu, sarung yang sengaja aku beli untuk Bapak saat
aku liburan ke Jogja dulu. Bapak selalu mengenakannya. Air mataku
meleleh melihat malaikat itu tertidur dalam posisi duduk. Pastilah
tulang-tulang tua tersebut memberinya rasa pegal dan sakit yang
menyiksa. Tiba-tiba aku merasa sangat berdosa kepadanya. Bapak, maafkan
aku.

"Jangan menangis cah ayu,...jangan cengeng.." Rupanya,
isak tangisku mengusik tidur beliau. Tangan tuanya yang keriput
mengusap air mata di pipiku. Aku makin tersedu.

"Bapak tahu kamu sangat marah sama Bapak karena kejadian kemarin...." Suara datar penuh wibawa itu terdengar sangat halus.

"Bapak
tak akan melarangmu menikah dengan siapa pun. Kamu bebas memilih, kamu
telah dewasa, bahkan sebentar lagi kamu akan sah jadi sarjana, yang
pertama dan satu-satunya di desa ini. Tapi, jangan dengan anak bajingan
itu, sampai mati pun bapak tak rela.." Aku memilih diam, aku hanya
terisak dan semakin terisak. Aku pasrah saja saat bapak angkatku itu
menuntunku pulang.

****

Seminggu sudah bencana itu
berlalu, aku memilih patuh kepada Bapak. Sudah seminggu pula, aku
menghabiskan malam tanpa menutup mata. Berdiam diri di balkon kamarku
sambil menatap langit berharap dapat menemukan bintang jatuh. Malam
ini, kupastikan tak ada bintang jatuh, hujan sudah mengguyur bumi mulai
sore tadi. Tapi, aku tetap seperti hari-hari sebelumnya.

"Nduk Sekar, dipanggil Bapak," suara Mbok Jah terdengar dari balik pintu kamarku.

"Ya Mbok, terima kasih," jawabku acuh tanpa membuka pintu

"Nduk, dipanggil Bapak," Mbok jah mengulangi panggilannya.

"Iya..iya.., bentar!!!" sambil membuka pintu kubentak wanita sepuh itu.

"Maaf nduk, tapi Bapak sedang sakit. Beliau ingin bertemu dengan Nduk Sekar."

"Sakit?
Sakit apa? Sejak kapan Mbok? Sepertinya, kemarin-kemarin aku melihat
Bapak sehat-sehat saja?" aku menghujani pertanyaan kepada Mbok Jah
sambil melangkah menuju kamar Bapak. Pintu kamar itu terbuka sebagian,
dari luar aku sudah dapat melihat wajah Bapak. Pucat dan lemah.

"Bapak kenapa?? Bapak...." aku menjerit histeris sambil memegangi tangan Bapak.

"Jangan
menikah dengan anak Surya, Sekar. Berjanjilah pada Bapakmu
ini,....berjanjilah," suara itu samar, hampir tak terdengar tapi sangat
menghujam jantungku. Refleks aku mengangguk.

"Aku berjanji Bapak, aku berjanji,...."

****

Hari
ini aku terpaku menatap gundukan tanah yang masih basah. Semerbak bau
kembang terbawa angin bersama debu dan daun kering. Di bawah sana,
malaikat sekaligus monster itu terbaring untuk selamanya meninggalkan
janji yang sangat berat di pundakku.

Di seberang sana, aku
melihat sosok yang sangat aku kenal. Awan terpaku di bawah pohon
kamboja. Seakan memintaku untuk mendekatinya. Aku ingin berlari ke
arahnya menumpahkan kerinduanku. Tapi, janji yang aku ucap semalam
kepada jasad yang tertidur di bawah nisan ini merantai kakiku. Aku
memilih untuk meninggalkan tempat itu, tanpa menegur atau sekadar
membalas tatapannya.

Nyawaku tak utuh lagi. Mungkin pergi
bersama Bapak atau tinggal bersama Awan yang masih terpaku di bawah
pohon kamboja. Janji adalah utang. Kepada beliau, aku tak hanya utang
janji, tapi juga utang budi. Selalu ada harga yang harus dibayar untuk
segala sesuatu, meski untuk sebutir pasir sekalipun. Jika itu harga
yang harus aku bayar, akan aku lakukan. Aku memang tak yakin bisa hidup
tanpa Awan.

Tapi, aku telah memilih untuk menepati janjiku
kepada Bapak. Biarlah takdir sendiri yang menentukan jalan kami.
Seperti bintang yang patuh untuk turun ke bumi saat Sang Mahakuasa
menghendakinya demikian.

Dendamlah yang membuat Bapak sangat
membenci Pak Surya, orang tua Awan. Bapak sangat meyakini bahwa
kematian istri dan putri tunggalnya, Mbak Lastri, adalah karena teluh
yang dikirim Pak Surya yang kala itu kalah pemilihan kepala desa.

Bapak
sangat meyakini itu benar. Meski diagnosis dokter mengatakan bahwa
mereka meninggal karena DBD. Saat itu, memang desa ini sedang diserang
wabah DBD. Namun, karena kejadian tersebut hanya berselang satu hari
setelah kemenangan Bapak, beliau meyakini ada kekuatan lain yang
merenggut nyawa dua orang keluarganya itu hingga meninggal secara
bersamaan.***

Sumber:http://sriti.com

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Blogger Template by Blogcrowds